Di sebuah kamar kos yang sederhana, Syifa (22), mahasiswi rantau asal Jakarta Timur, pernah menghabiskan hari-harinya ditemani cahaya layar laptop yang tak pernah benar-benar padam. Jari-jemarinya menari di atas papan ketik dengan mata yang kerap terlihat letih. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. Rutinitas yang melelahkan itu pernah menjadi teman akrab bagi Syifa. Jauh dari rumah, ia harus berperang dalam kesunyian yang menusuk agar tetap waras di tengah banyaknya tekanan.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Jambi, hari Syifa lebih sering dihabiskan dalam kesendirian kamar kosnya, bersama laptop yang setia menemani tanpa kata, dan pikiran yang terus berlarian seperti angin tanpa tujuan. Dalam perjuangan yang dijalani sendirian, Syifa kerap bergulat dengan rasa semangatnya yang terkadang runtuh ketika proses bimbingan tak selalu berjalan lancar. Jadwal dosen pembimbing yang berubah-ubah membuat revisi terasa seperti jalan tanpa ujung. “Rasanya tuh kayak, ‘aku udah usaha, tapi kenapa ga maju-maju sih,’” ujarnya lirih.
Tekanan terbesar yang Syifa rasakan tak hanya datang dari tuntutan akademik, tetapi juga dari harapan keluarga yang ia pikul berat dipundaknya. Orang tuanya ingin Syifa segera lulus, segera bekerja, segera membantu menopang kebutuhan keluarga. “Mereka ga terlalu paham struggle akademik itu kayak gimana,” kata Syifa, “jadi ekspektasi mereka lebih ke hasil, bukan prosesnya.” Walau tuntutan dari keluarga kerap membuat dadanya bertambah sesak, bagi Syifa, keluarga tetaplah rumah yang paling hangat untuk kembali pulang. “Mau sepressure apa pun, orang tua tetep tempat paling nyaman buat pulang. Kadang mereka yang bikin capek, tapi cuma mereka juga yang bisa bikin hati tenang,” katanya.
Di sela kelelahan, rasa takut akan masa depan juga sering menghampiri. Syifa sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang kehidupan setelah kelulusan. Pada kenyataannya setelah tali toga digeser, dunia tak lagi memberi arah, melainkan meminta keberanian untuk menapaki jalan yang belum pernah ia kenal. “Kadang aku mikir, kalau fase skripsian aja udah sesusah ini, nanti pas udah lulus bakal kayak apa ya,” ujarnya jujur. Namun, ketakutan yang terkadang singgah itu tidak membuat langkahnya goyah. Ia tahu bahwa setiap fase kehidupan selalu punya tantangannya sendiri. “Aku coba yakinin diri sendiri, tiap fase hidup pasti ada strugglenya. Jadi waktu itu aku berusaha fokus dulu sama yang di depan mata,” tutur Syifa.
Setelah hari-hari panjang bergumul dengan pikiran dan kata yang terus beradu dengan waktu, perlahan membentuk pemahaman baru bagi Syifa. Setiap bab yang tertulis dalam skripsinya bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga bukti bahwa ia bertahan di tengah rasa lelah dan ragu. Ada kalanya ia ingin menyerah, namun ingatan tentang perjuangan sejak awal selalu menahannya. “Masa udah sejauh ini mau berhenti?” ucapnya mengingat kembali.
Ketika langkahnya mulai tertatih, Syifa membiarkan kelelahannya menemukan tempat untuk beristirahat. Baginya, menjaga kewarasan adalah bentuk tertinggi dari bertahan hidup. Menonton YouTube, menulis di jurnal pribadinya, atau sekadar bercerita pada teman yang juga sedang berjuang dengan skripsi
