Di sela-sela kesibukan kota Depok yang setiap harinya dipenuhi asap knalpot dan suara klakson kendaraan, masih ada sekelompok penarik becak yang masih berusaha bertahan sampai sekarang. Keberadaan mereka memang tidak mencolok seperti dulu, tetapi jejaknya masih terasa di beberapa sudut kota, terutama di pasar tradisional dan di beberapa area pemukiman. Becak-becak itu kini lebih tampak seperti pengingat masa lampau, meski masih menjadi sumber penghasilan utama bagi beberapa orang yang menggantungkan hidupnya dari setiap gowesannya.
Setiap pagi, Slamet pria yang kini sudah menginjak usia 55 tahun selalu datang lebih awal ke pangkalannya di Pasar Kemiri Muka. Ia memilih berada di sana sebelum para pedagang dan pembeli mulai memenuhi area pasar karena menurutnya kesempatan mendapatkan penumpang lebih besar jika ia sudah siap sejak awal. Begitu tiba, ia langsung duduk di becaknya sambil mengamati aktivitas sekitar. Meskipun jarang ada penumpang lewat pagi hari, Slamet tetap memilih menunggu karena waktu itu adalah satu-satunya peluang yang bisa ia andalkan sebelum pasar semakin ramai dengan ojek online yang keluar-masuk membawa penumpang. Slamet mengaku bahwa keadaan sekarang sangat jauh berbeda dibanding masa awal ia bekerja sebagai penarik becak. Dahulu, penumpang becak cukup banyak, terutama pada pagi dan siang hari. Warga yang ingin berbelanja, pelajar, hingga ibu-ibu yang membawa barang dari pasar sering menggunakan jasanya. Dengan pendapatan yang lumayan stabil, ia bisa membawa pulang cukup uang untuk kebutuhan keluarganya. Namun kondisi itu berubah drastis setelah transportasi berbasis aplikasi mulai digunakan secara luas di kota Depok. “Sekarang orang tinggal pesan ojek online. Cepat dan gampang, jadi becak kalah,” ujarnya. Dominasi transportasi online membuat Slamet harus menerima kenyataan bahwa penumpang semakin jarang. Dalam satu hari, ia hanya berharap mendapatkan dua atau tiga penumpang. Kadang ia harus menunggu berjam-jam tanpa ada yang memanggil. Namun ia tidak punya pilihan selain bertahan. Dengan usia yang tidak lagi muda dan keterampilan yang terbatas, Slamet merasa sulit mencari pekerjaan lain selain penarik becak.
Walaupun begitu, masih ada beberapa warga yang memakai jasa Slamet, meskipun tidak rutin setiap hari. Biasanya mereka adalah pembeli pasar yang membawa barang banyak dan merasa lebih nyaman naik becak dibanding motor. Ada juga lansia yang lebih memilih becak karena lebih aman untuk perjalanan jarak pendek. Faktor-faktor kecil inilah yang membuat Slamet tetap memiliki harapan, meski frekuensinya menurun. “Kadang ada langganan yang masih naik. Tapi kalau mereka tidak datang, saya cuma bisa nunggu,” Ujarnya.
Pendapatan Slamet sangat tidak menentu. Ia mengungkapkan bahwa penghasilannya sering kali hanya cukup untuk makan. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang uang yang sangat sedikit ketika pasar sepi. Namun ia tetap berusaha bekerja semampunya. Baginya, berhenti menarik becak bukan pilihan karena itu berarti kehilangan satu-satunya sumber penghasilan. Masalah lain yang harus dihadapi Slamet adalah kondisi fisiknya. Mengayuh becak di usia lebih dari setengah abad bukanlah hal yang mudah. Ia sering merasakan lelah di kaki dan
pegal-pegal di punggung. Kadang ia harus beristirahat lama sebelum melanjutkan menarik becak. Namun ia tidak ingin mengeluh, sebab ia merasa selama masih mampu bekerja, ia akan
tetap mengayuh.
Becak yang ia kendarai bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari perjalanan hidupnya. Becak itu sudah menghidupi keluarganya sejak pertama kali ia datang ke kota Depok. Dengan pendapatan dari becak, ia bisa membesarkan anak-anaknya meski dalam kesederhanaan. Karena itu, Slamet memiliki ikatan emosional dengan becaknya. “Dari dulu saya hidup dari becak ini. Jadi walaupun sudah tua, saya akan tetap pakai,” Ujarnya. Di tengah kemajuan kota Depok yang terus bergerak cepat, keberadaan becak memang semakin jarang terlihat. Namun bagi sebagian warga, becak masih dibutuhkan untuk keperluan tertentu. Slamet menyadari bahwa profesinya tidak lagi menjadi pilihan utama masyarakat. Iatahu bahwa teknologi mengubah cara orang bepergian. Meskipun begitu, ia yakin bahwa selama pasar tetap ramai, becak masih mempunyai tempat meski tidak sebesar dulu.
