Di tengah kesibukan Jakarta yang tidak pernah sepi, kerak telor masih menjadi salah satu kuliner khas Betawi yang terus menarik perhatian. Aroma gurih dari arang panas, kelapa sangrai, dan telur bebek kerap menggoda pengunjung, terutama di kawasan wisata Kota Tua yang selalu ramai.
Salah satu penjual kerak telor, Bang Nasir, mengaku telah berjualan sejak pagi hingga sore hari untuk melayani wisatawan. Dengan peralatan sederhana seperti wajan besi, arang, dan kipas bambu, ia mempertahankan cara memasak tradisional yang menjadi ciri khas kerak telor. Proses pembuatannya pun kerap menjadi tontonan, mulai dari menaburkan ketan hingga membalik wajan di atas bara api.
Perpaduan ketan, telur bebek, kelapa sangrai, dan ebi menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Tak jarang, pembeli kembali memesan karena rasa dan pengalaman menikmati proses memasaknya. Menurut Bang Nasir, meski banyak jajanan modern bermunculan, peminat kerak telor tetap ada, bahkan sering kali berasal dari anak muda dan wisatawan luar kota.
Keberadaan penjual seperti Bang Nasir menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi kuliner Betawi. Kerak telor tidak hanya dinikmati sebagai makanan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan kota Jakarta.
